Adam Air akhirnya resmi diberhentikan sebagai maskapai penerbangan Nasional. Berita ini memang mengejutkan karena adanya ketegasan dan keputusan penting setelah serangkaian kecelakaan Pesawat Adam Air secara kontinu terjadi sejak 2 tahun yang lalau. Puncaknya tentu saja jatuhnya Boeing 737 Adam Air di laut Majene yang menewaskan 96 orang penumpangnya.
Tentu saja, peristiwa tahun 2007 itu menjadi penyebab utama kenapa akhirnya maskapai penerbangan yang bau kencur tapi agresif itu akhirnya ditutup alias sudah tidak terbang lagi. Kasus Majene dna hasil penelitian akhirnya ternyata menunjukkan adanya kemerosotan mental yang cukup besar pada para pilot dan keandalan teknis perawatannya, yang berakhir tragis dimana sistem navigasi gagal berfungsi, pesawat melenceng dari lintasan seharusnya, dan akhirnya jatuh ke dasar laut bersama semua penumpangnya.
Tak lama sebelumnya sebenarnya gejala perawatan yang “ngasal” nampak pada peristiwa pendahuluan dimana pesawat Adam Ait nyasar di NTB. Lantas, 2 minggu sebelum secara resmi ditutup di bulan Maret serangkaian kecelakaan juga menimpa Adam Air.
Dan Gong keputusan dari Menhub pun dibunyikan dengan keras. Adam Air dilarang terbang dan ijin terbangnya dicabut. Nasib malag Adam Air semakin runyam ketika diketahui terdapat berbagai penyelewengan di tingkat manajerial. Akhirnya salah satu investor utamanya pun malah mencabut investasinya dan bakal memperkarakan manajemen Adam Air karena adanya indikasi penyelewengan. Maka lengkaplah nasib airlines yang masih bau kencur ini menerima nasib buruknya yang sejak awal sudah diperkirakan bakal seumur jagung.
Kasus Adam air hanya refleksi saja kalau bisnis penerbangan bukanlah bisnis hiburan dimana tiket dan pelayanan digenjot semurah dan semeriah mungkin. Ada faktor utama yang haru sselalu menjadi prioritas dalam bisnis ini yaitu “keamanan penerbangan” itu sendiri sebagai suatu seni , keahlian teknis, sekaligus bisnis. Untuk itu, membangun suatu airlines yang sukses yang diperlukan bukan sekedar modal dan jurus marketing yang menarik, tapi juga harus didukung dengan keahlian teknis, pengalaman dan empati tentang keselamatan yang tinggi. Makanya bisnis penerbangan bisnis mahal karena merupakan bisnis integralistis dimana antara manusia dan mesin harus bekerjasama dengan seimbang, tanpa kerjasama yang seimbang hanya kemalangan saja yang akan dituai.
Mudah-mudahan kasus Adam Air merupakan cermin bagi airlines lainnya di Indonesia bahwa dalam dunia penerbangan keselamatan lebih diutamakan ketimbang sekedar hura-hura maupun tiket murah yang tidak perlu.
0 Tanggapan ke “Adam Air Ditutup”